Proses Komunikasi dalam Organisasi.EkonomiPintar

MAKALAH
PERILAKU ORGANISASI
PROSES
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Dosen
pengempu :
Rois
Arifin SE., MM.
Disusun
Oleh :
Umami
Nuraisyah 21701081117
Zainatul
Fajria 21701081207
Dyah
ayu firrkah i 21701081470
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis
Universitas
Islam Malang
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik, dan
Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan kami semoga
makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui
masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh
karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Malang,
6 Desember 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar ................................................................................................ i
Daftar
Isi ............................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar
Belakang .... 1
1.2 Rumusan
Masalah .... 3
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
komunikasi dalam
organisasi.......................................................................... 4
2.2 hambatan hambatan komunikasi ................................................................... 7
2.3 komunikasi yang efektif................................................................................. 8
Studi
kasus
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan. 12
3.2 Saran ....................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia di dalam kehidupannya harus
berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau
masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa
sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan
sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok ataupun organisasi,
selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk
kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari atasan danbawahannya.
Di antara kedua belah pihak (atasan dan
bawahan) harus ada komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu
diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik
cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
Kerjasama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial
maupun kebudayaan. Hubungan yang terjadi merupakan suatu proses adanya suatu
keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat
memberikan manfaat untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Komunikasi organisasi dapat
didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiranpesan di antara unit-unit
komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi
terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. Komunikasi organisasi
melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok.
Komunikasi atau dalam bahasa
Inggris disebut Communication berasal dari bahasa Latin communicatio,
dan bersumber dari kata communis yang artinya "membuat
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih". Dalam
pengertian secara khusus mengenai komunikasi itu sendiri menurut Hovland Komunikasi
adalah “proses mengubah perilaku orang lain”. Banyak ahli di dunia
juga memberikan sumbangan pemikiran tentang komunikasi
Menurut Harorl D. Lasswell, Komunikasi
pada dasarnya merupakan suatu proses yg menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan
saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa.
Shannon & Weaver: Komunikasi adalah
bentuk interaksi manusia yg saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya,
sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan
bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan
teknologi.
Raymond S. Ross: Komunikasi adalah suatu
proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa
sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yg
serupa dengan yg dimaksudkan komunikator.
Prof. Dr. Alo Liliweri: Komunikasi
adalah pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada penerima agar dapat
dipahami.
Bernard Berelson & Gary A. Steiner:
Komunikasi adalah Transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan
sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol -kata-kata, gambar, figur, grafik
dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yg disebut dengan
komunikasi.
Dari beberapa pengertian komunikasi dari
para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah Komunikasi adalah
Suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang
lain dengan tujuan tercapai persepsi atau pengertian yang sama.
Organisasi pada dasarnya digunakan
sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara
rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali,
dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan),
sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan
efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Stoner mengatakan bahwa organisasi
adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah
pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
James D. Mooney mengemukakan bahwa
organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa
organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan
oleh dua orang atau lebih.
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa
Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara
sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja
atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan.
Prof Dr. Sondang P. Siagian,
mendefinisikan organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua
orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka
pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang
/ beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang
disebut dengan bawahan.
Dari beberapa pengertian tentang
organisasi diatas dapat disimpulkan bahwa, organisasi adalah suatu
kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud komunikasi dalam
organisasi ?
2.
Bagaimana
Proses komunikasi dalam organisasi ?
3.
Apa
saja hambatan-hambatan komunikasi ?
4.
Bagaimana
cara berkomunikasi yang efektif ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Komunikasi adalah Suatu proses
penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang lain dengan
tujuan tercapai persepsi atau pengertian yang sama.
Komunikasi dalam organisasi sangat
penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang bisa berhubungan dengan
orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa menambah wawasan seseorang
dalam bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari. Maka untuk membina hubungan
kerja antar pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah membicarakan
komunikasi secara lebih terperinci.
Dalam menyalurkan solusi dan ide melalui
komunikasi harus ada si pengirim berita (sender) maupun si
penerima berita (receiver). Solusi-solusi yang diberikan pun
tidak diambil seenaknya saja, tetapi ada penyaringan dan seleksi, manakah
solusi yang terbaik yang akan diambil, dan yang akan dilaksanakan oleh
organisasi tersebut agar mencapai tujuan, serta visi, misi suatu organisasi.
Unsur-Unsur Komunikasi
1. Komunikator (communicator), yaitu memberi berita, yang
dalam hal ini adalah orang yang berbicara, pengirim berita atau orang yang
memberitakan.
2. Menyampaikan berita, dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatakan,
mengirim atau menyiarkan.
3. Berita-berita yang disampaikan (message), dapat dalam
bentuk perintah, laporan, atau saran.
4. Komunikan (communicate), yaitu orang yang dituju, pihak
penjawab atau para pengunjung. Dengan kata lain orang yang menerima berita.
5. Tanggapan atau reaksi (response), dalam bentuk jawaban
atau reaksi.
Kelima unsur komunikasi tersebut
(Komuniakator, Menyampaikan berita, Berita-berita yang disampaikan, Komunikan
dan Tanggapan atau reaksi) merupakan kesatuan yang utuh dan bulat, dalam arti
apabila satu unsur tidak ada, maka komunikasi tidak akan terjadi. Dengan
demikian masing-masing unsur saling berhubungan dan ada saling ketergantungan.
Jadi dengan demikian keberhasilan suatu komunikasi ditentukan oleh semua unsur
tersebut.
Proses Komunikasi Dalam Organisasi
Proses komunikasi dalam organisasi :
1. Proses ideasi
Tahap pertama dalam suatu proses komunikasi adalah
ideasi (ideation) yaitu proses penciptaan gagasan atau informasi yang dilakukan
oleh komunikator.
2. Proses encoding
Gagasan atau informasi disusun dalam serangkaian
bentuk simbol atau sandi yang dirancang untuk dikirimkan kepada komunikan dan
juga pemilihan saluran dan media komunikasi yang akan digunakan.
3. Proses pengiriman
Gagasan atau pesan yang telah disimbolkan atau
disandikan (encoded) melalui saluran dan media komunikasi yang tersedia dalam
organisasi. Pengiriman pesan dapat dilakukan dengan berbicara, menulis,
menggambar dan bertindak.
4. Proses penerimaan
Penerimaan pesan ini dapat melalui proses
mendengarkan, membaca, atau mengamati tergantung pada saluran dan media yang
digunakan untuk mengirimkannya.
5. Proses decoding
Pesan-pesan yang diterima diintrepretasikan, dibaca,
diartikan,dan diuraikan secara langsung atau tidak langsung melalui proses
berfikir.
6. Proses tindakan
Respon komunikan dapat berbentuk usaha melengkapi
informasi, meminta informasi tambahan, atau melakukan tindakan-tindakan lain.
jenis-jenis komunikasi dalam organisasi terdiri dari:
1. Komunikasi Internal: Adalah komunikasi yang
terjadi dalam organisasi itu sendiri. Misalnya, Pertukaran gagasan di antara
para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap
yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam
perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan [operasi dan manajemen]. Komunikasi internal
terdiri dari dua dimensi yakni komunikasi vertical, dan komunikasi horizontal.
a. Komunikasi Vertikal
Komunikasi dari pimpinan ke staff, dan dari staf ke
pimpinan dengan cara timbal balik [two way traffic
communication]. Komunikasi vertical ada dalam bentuk komunikasi
kebawah dan komunikasi keatas. Fungsi komunikasi kebawah antara lain :
1) Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai
pelaksanaan kerja bawahan.
2) Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
3) Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan
organisasi, insentif
Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi
dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap
bawahannya.Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan
seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut
merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya. Contoh :
pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, perintah,
pengumuman, rapat, majalah intern.
Sedangkan fungsi komunikasi keatas antara lain :
1) Memberikan pengertian mengenai laporan
prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
2) Memperoleh informasi dari bawahan
mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih
rendah.
Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat,
tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati
terbuka oleh pimpinan. Contoh : staf memberikan laporan, saran-saran,
pengaduan, kritikan, kotak saran, dsb kepada pimpinan.
b. Komunikasi horizontal
Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama
karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal.
Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh
dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan
cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan
tertulis.
c. Komunikasi
Diagonal (Cross Communication)
Komunikasi antara pimpinan seksi/bagian dengan pegawai
seksi/bagian lain.
d. Komunikasi Eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi [perusahaan]
dengan khalayak umum di luar organisasi.
2.2 HAMBATAN-HAMBATAN
KOMUNIKASI
1. Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan
disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi
oleh perasaan atau situasi emosional.
a. Hambatan dalam penyandian/symbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang
dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang
dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang
dipergunakan terlalu sulit.
b. Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media
komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak
dapat mendengarkan pesan.
c. Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh
si penerima
d. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat
menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak
mencari informasi lebih lanjut.
e. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak
menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat
waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu
komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain,
misalnya: gangguan kesehatan (cacat tubuh misalnya orang yang tuna wicara),
gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3. Hambatan Semantik.
Faktor pemahaman bahasa dan penggunaan
istilah tertentu. Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang
mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara
pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya : adanya perbedaan bahasa ( bahasa
daerah, nasional, maupun internasional), adanya istilah – istilah yang hanya
berlaku pada bidang-bidang tertentu saja, misalnya bidang bisnis, industri,
kedokteran, dll.
4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial
kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta
harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan, sehingga menimbulkan
emosi diatas pemikiran-pemikiran dari sipengirim maupun si penerima pesan yang
hendak disampaikan.
5. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor, emosi dan
prasangka pribadi, persepsi,
kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat
pancaindera seseorang, dll.
kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat
pancaindera seseorang, dll.
Cara Mengatasi Hambatan Komunikasi
1. Gunakan umpan-balik
Beri kesempatan pada orang orang lain untuk
menyampaikan ide atau gagasannya, sehingga tercipta dua iklim komunikasi dua
arah.
2. Kenali si penerima berita
a. bagaimana latar belakang pendidikannya.
b. bagaimana pengetahuan tentang subyek pembicaraan,
c. sejauh mana minat dan perasaanya
3. Rencanakan secara teliti, pertimbangkan baik-baik : apa, mengapa,
siapa, bagaimana, kapan
2.3 KOMUNIKASI YANG
EFEKTIF
Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide,
perasaan yang menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan
baik antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengukuran efektivitas dari suatu
proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan
Model
Komunikasi David K. Berlo yang terkenal yakni SMCR terdapat unsur-unsur Source,
Medium, Channel dan Receiver. Murid Wilbur E. Schramm ini memasukkan berbagai
elemen komunikasi sebagaimana yang sudah diungkapkan gurunya seperti source,
encoding, message, decoding dan receiver. Berlo memberi penekanan lebih pada
komunikasi sebagai sebuah proses. Mengelaborasikan antara pesan dan saluran
serta memperluas konsep fidelity atau ketepatan.
Berlo
memandang segala sesuatu bisa menjadi pembawa pesan, misalnya saja melalui
algoritme yang disalurkan melalui perlengkapan komputer. beberapa energi juga
bisa membawa pesan misalnya listrik,udara dan cahaya. Untuk mencapai komunikasi
yang efektif komunikan sebaiknya memperhatikan cara dalam menyajikan sebuah
pesan, baik secara verbal ataupun nonverbal. Suara yang bagaimana yang paling
efektif digunakan dalam berbagai situasi.
Tipe-gambar
atau diagram, animasi, video seperti apakah yang sebaiknya digunakan untuk
mencapai efektivitas komunikasi dalam beragam situasi. Untuk mencapai
efektiftas dalam komunikasi dibutuhkan beragam kombinasi dari cara itu.
Konsep Fidelity (ketepatan) yang disampaikan Berlo, menilai
suatu proses komunikasi bisa diukur efektivitasnya dilihat dari tercapai atau
tidaknya tujuan dari si pengirim pesan. Ketepatan ini bisa diterapkan dalam
keseluruhan komunikasi ataupun komponen komunikasi.
Ada 4 faktor yang bisa
membangun ketepatan dalam komunikasi yakni:
1. Ketrampilan komunikasi
2. Perilaku
3. Level pengetahuan
4. Posisi sosial budaya
Komunikasi verbal efektif
1.
Berlangsung secara timbal balik.
2.
Makna pesan dapat disampaikan secara ringkas dan jelas
3.
Bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami.
4.
Cara penyampaian mudah diterima.
5.
Disampaikan secara tulus.
6.
Mempunyai tujuan yang bisa ditangkap jelas.
7.
Memperhatikan norma yang berlaku.
8.
Disertai dengan humor atau cara-cara menyenangkan lainnya.
Komunikasi nonverbal
yang efektif
1.
Penampilan fisik yang meyakinkan lawan bicara.
2.
Sikap tubuh dan gesture.
3.
Ekspresi wajah.
4.
Sentuhan.
Tipe:
1.
Intrapersonal: Berkomunikasi dengan diri sendiri atau sama
dengan Hantu
2.
Interpersonal: Komunikasi yang dilakukan antara 2 orang.
3.
Small group: Komunikasi yang dilakukan lebih dari dua anggota,
dimaa anggota kelompok memiliki porsi berkomunikasi secara seimbang.
4.
Public: Komunikasi yang dilakukan dalam grup yang besar,sehingga
terlalu besar bagi keseluruhan anggota untuk bisa seimbang dalam berkomunikasi.
5.
Komunikasi Massa: terdiri dari beberapa pesan yang
ditransmisikan dalam jumlah yang besar kepada beberapa orang sekaligus pada
saat bersamaan. Disalurkan melalui berbagai sumber baik
Elektronik,cetak,Televisi, radio, Majalah dll. Tidak ada kontak secara personal
antara pengirim dan penerima pesan. Komunikasi Interaktif: ada stimulus dan
respon
Hambatan:
Hambatan
adalah faktor-faktor yang dapat mengganggu penerimaan suatu pesan. Karena
terganggu maka penerima pesan juga bisa salah dalam memaknai balik pesan yang
diterima. Faktor yang berpotensi menjadi penghambat dalam komunikasi yang
efektif adalah:[2]
1.
Perbedaan Status sosial antara komunikan dan komunikator.
misalnya saja karyawan harus tunduk atau patuh terhadap apapun yang dikatakan
atasannya, sehingga karyawan tersebut takut menyampaikan aspirasi atau
pendapatnya.
2.
problem semantik, menyangkut bahasa yang digunakan komunikator
dalam menyampaikan pesan. Kesalahan penyebutan bisa mengakibatkan sebuah
kesalah - pahaman dan beda penafsiran.
3.
Distorsi persepsi, disebabkan perbedaan cara pandang yang sempit
pada diri sendiri dan perbedaan cara berpikir pada orang lain. Hal ini
menimbulkan hambatan perbedaan persepsi dan wawasan satu dengan yang lainnya.
4.
Perbedaan Budaya, dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku,
ras dan bahasa serta agama yang berbeda sehingga ada beberapa penggunaan kata
yang memiliki arti berbeda pada tiap suku.
5.
Gangguan fisik, gangguan lingkungan fisik seperti suara riuh
orang-orang, suara petir,hujan dan cahaya yang kurang jelas.
6.
Keterbatasan saluran komunikasi, gangguan yang disebabkan pada
media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi misal sambungan telephone
yang terputus-putus, suara radio yang hilang tenggelam, atau gambar yang buram.
7.
Tidak ada umpan balik/tanggapan, hambatan dimana pesan yang
disampaikan sang pengirim tidak di beri tanggapan. Maka yang selanjutnya
terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia dan tidak efektif.
Contoh kasus :
PT Sumber Daya Sentosa , bergerak dalam bidang
otomotif, mengalami permasalahan antara perusahaan dengan karyawan.
Permasalahan ini terjadi yang disebabkan oleh adanya
miss communication antara atasan dengan karyawannya. Adanya
perubahan kebijakan dalam perusahaan mengenai penghitungan gaji atau upah
kerja karyawan, namun pihak perusahaan belum memberitahukan para
karyawan, sehingga karyawan merasa diperlakukan semena-mena oleh
pihak perusahaan. Para karyawan mengambil tindakan yaitu dengan
mendemo perusahaan, Namun tindakan ini berujung pada PHKbesar-besaran
yang dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan manapun pasti
pernah mengalami permasalahan internal. Mulai dari
tingkat individu, kelompok, sampai unit. .Mulai dari derajat dan
lingkup permasalahan yang kecil sampai yang besar. Yang relatif
kecil seperti masalah adu mulut tentang pribadi antarkaryawan, sampai
yang relatif besar seperti beda pandangan tentang strategi bisnis di
kalangan manajemen.
Contoh lainnya
dari permasalahan yang relatif besar yakni antara karyawan
dan manajemen. Secara kasat mata kita bisa ikuti berita sehari-hari
di berbagai media. Disitu tampak permasalahan dalam bentuk
demonstrasi danpemogokan. Apakah hal itu karena tuntutan besarnya
kompensasi, kesejahteraan, keadilan promosi karir, ataukah karena tuntutan
hak asasi manusia karyawan.
Penjelasan kasus :
Didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan
kerja atau perusahaan antara individu akan sering
terjadi. Permasalahan yang sering terjadi biasanya adalah karena
masalah kominikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasimasalah dalam
perusahaan harus benar-benar dipahami management inti dari
perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul. Permasalahan atau
konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang
terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan
dengan system yang terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara
atasan dan bawahan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya
mogok kerja, bahkan demo.
Sehingga untuk mensiasati masalah ini bias dilakukan
dengan berbagai cara:
1. Membentuk suatu system informasi
yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam
komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau
pengumuman melalui loudspeaker.
2. Buat komunikasi dua arah antara atasan
dan bawahan menjadi lancer dan harmonis, misalnya dengan membuat
rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan
mengurangi masalah di lapangan.
3. Beri pelatihan dalam hal komunikasi
kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan
ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan
masalah dalam hal komunikasi Biasanya masalah timbul karena lingkungan
yang kurang kondusif di suatu perusahaan. Misalnya, kondisi cahaya
yang kurang, atau sirkulasi yangkurang baik, dan temperature ruangan
yang tinggi sangat mungkin untuk meningkatkan emosi seseorang, jadi
kondisi dari lingkungan juga harus di perhatikan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi dirumuskan
sebagai suatu proses penyampaian pesan atau berita ke beberapa orang.
Dikarenakan komunikasi melibatkan seorang pengirim dan menerima pesan yang
mungkin juga memberikan umpan baliku ntuk menyatakan bahwa pesan telah
diterima. Komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia karena manusia
adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam
berkomunikasi seseorang harus memiliki dasar yang akan menjadi patokan
seseorang tersebut dalam berkomunikasi. Dalam proses komunikasi kita juga harus
ingat bahwa terdapat banyak hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.
3.2 Saran
komunikasi adalah berhubungan dan
mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam
mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama
dengan orang lain. Ada dua jenis komunikasi, yaitu verbal dan non verbal, komunikasi
verbal atau tertulis dan komunikasi non verbal atau bahasa(gerak)
tubuh.Komunikasi dua arah terjadi bila pengiriman pesan dilakukan dan
mendapatkan umpan balik. Seseorang dalam berkomunikasi pasti dapat merasakan
timbal balik antara pemberi informasi serta penerima informasi sehingga
terciptanya suatu hubungan yg mutualisme antara keduanya
DAFTAR PUSTAKA
Referensi:
1) PaceR.WayneandFaules,DonF,KomunikasiOrganisasi,
ROSDA,
Bandung2000
2) UchjanaEffendi,Onong., IlmuKomunikasi, Teori danPraktek,RemajaRosdakarya, Bandung1992
3) Jiwanto,Gunawan.,KomunikasidalamOrganisasi,pusat PengembanganManajemen&Andi Offset,
Yogyakrta 1985
Komentar
Posting Komentar